Kerajaan Baranusa memiliki kisah sejarah yang panjang dan menarik. Cerita ini bermula dari masuknya pengaruh Kerajaan Majapahit ke wilayah Kabupaten Alor. Pada masa itu, datanglah dua lelaki bersaudara dari Pulau Jawa, bernama Akiai (sang kakak) dan Maja (sang adik). Mereka melakukan perjalanan dari Pulau Jawa dengan membawa neraca berisi tanah dari asal mereka.
Perjalanan mereka melintasi Pulau Jawa, Bali, Lombok, hingga tiba di Alor (Baranusa). Di setiap persinggahan, mereka mengambil tanah setempat dan menimbangnya dengan tanah dari Jawa. Di Bali, Lombok, dan Flores, tanah-tanah tersebut ternyata lebih ringan. Namun, sesampainya di daratan Pantar—yang kelak dikenal sebagai Kerajaan Baranusa—mereka mendapati tanah di sana lebih berat dibandingkan dengan tanah Jawa. Mereka pun memutuskan untuk tinggal sementara waktu di wilayah tersebut.
Suatu hari, kedua bersaudara ini pergi memancing. Tiba-tiba, Maja menemukan sebuah peti mengapung di laut. Ketika dibuka, ternyata peti itu berisi seorang perempuan cantik. Terkejut, mereka terdiam sejenak hingga perempuan itu berkata, "Siapa di antara kalian yang menemukanku, dialah yang akan menjadi suamiku."
Mendengar itu, Akiai membujuk Maja untuk memberinya kesempatan menikah dengan perempuan tersebut, dan Maja menyetujui permintaan kakaknya. Akiai pun membawa perempuan itu kembali ke Pulau Jawa, sementara Maja tetap tinggal di Baranusa.
Keesokan harinya, Maja hendak mencari makan ke hutan. Ia terkejut menemukan makanan dalam periuk, dan ketika ia menengadah ke langit, datanglah seekor burung besar yang mendekat—ternyata itu adalah perempuan yang ditemukan dalam peti. Maja bertanya, “Mengapa engkau di sini? Bukankah engkau telah pergi dengan kakakku?” Sang perempuan menjawab, “Aku menipunya. Aku tidak ikut ke Jawa karena aku tahu engkaulah yang pertama kali menemukanku.”
Akhirnya, Maja dan perempuan itu menikah dan dikaruniai tujuh anak—bukan dilahirkan, melainkan dalam bentuk telur. Dari tujuh anak tersebut, lima laki-laki dan dua perempuan. Mereka adalah:
Lima Anak Laki-laki:
-
Dai Mau Wolang – Raja Pandai (Pantar Timur)
-
Bara Mau Wolang – Raja pertama Kerajaan Baranusa
-
Tuli Mau Wolang – Raja Bunga Bali
-
Telu Mau Wolang – Raja Lomblen (kini Lembata)
-
Gang Mau Wolang – Raja daratan Seram (Maluku)
Dua Anak Perempuan:
-
Mone Kei – Menikah dengan Raja Munaseli, Siram Babu
-
Ati Kei – Menikah dengan Kapitan Munaseli, Kosang Bala
Struktur Suku dalam Kerajaan Baranusa
Dalam struktur sosial Kerajaan Baranusa, terdapat berbagai suku, baik asli maupun pendatang, yang masing-masing memiliki fungsi dan peran tertentu. Berikut penjelasannya:
1. Suku Uma Kakang
-
Uma berarti rumah, dan Kakang berarti kakak.
-
Suku tertua dan dianggap sebagai suku raja, berasal dari garis keturunan penguasa Kerajaan Baranusa.
-
Terdiri dari tiga komponen:
-
Uma Manung: Kakak tertua, keturunan dari permaisuri (istri pertama Raja)
-
Uma Kisu: Kakak kedua, dari istri kedua Raja
-
Uma Peing: Adik bungsu, juga dari istri kedua Raja
2. Suku Hali Wekang
Suku pendatang dari Pantar Timur dan Alor Kecil. Terdiri dari sub-suku berikut:
-
Haliweka
-
Manglolong
-
Lampoho
-
Gewulaya
-
Toda Ise
-
Paliwala
-
Kater
-
Bealasing
-
Hanjawa
-
Lakatuli
-
Bugis Bonerate
-
Terong Lamahala
-
Watobatta
-
Wato Wutung
-
Tonu Lelang
-
Maloku Tosiwo
3. Suku Sandiata (Senjata)
4. Suku Maloku
5. Suku Wutung Wala
6. Suku Ilu
7. Suku Kae Moring
8. Suku Hukung Uma / Uma Haring